Selasa, 17 Mei 2011

KYAI MOJO

Mahasiswa ?
Sebagai salah satu komponen peneguh universitas yaitu mahasiswa. Bagian vital keberlangsungan dinamika didalam kampus mshasiswa yang berinteraksi dalam kesehariannya dengan dosen maupun buku dan senentiasa berkutat pada pemberdayaan wilayah pikir dan laku, sehingga akan sangat melekat sekali julukan bagi mahasiswa yaitu sebagai masyarakat ilmiah, yang bertindak pada secara ilmiah dan bertanggungjawab pada keilmiahanya. Kita juga kerap kali mendengar julukan bahwa mahasiswa merupakan agen pembawa perubahan baik dalam skala nasional maupun local tentu saja dalam hal ini kita akan membatasi pada mahasiswa yang benar-benar memiliki komitmen pada dunia pendidikan (perkembangan ilmu pengetahuan) dan kepedulian terhadap kondisi kemasyarakatan.
Kenapa mahasiswa harus memiliki komitment terhadap dunia pendidikan?, jelas karena mahasiswasebagai bagian dari produk dunia pendidikan, yang didalamnya terdapat proses transfer pengetahuan entah itu dari dosen, buku, ataupun sumber lain yang berhubungan dengan itu. Kemudian sebagai konsekuensinya adalah harus bias menularkan kepada siapa saja, kapan saja, dan dimanapun. Begitupun mahasiswa harus punya komitmen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak saja hanya sebagai konsumen tetapi juga berusaha menemukan ilmu pengetahuan yang baru sebagai antisipasi kemandegan dalam dunia pendidikan.

Kemudian kenapa mahasiswa harus memiliki rasa kepedulian terhadap kondisi masyarakat? Bukankah lebih asyik menyenangkan diri sendiri?, pertanyaan mendasar saya kira ketika hal itu ditujkan pada mahasiswa. Peduli kepada masyarakat sekeliling ini merupakan aplikasi dari pertanggungjawaban atas keilmuanya.
Ketika pengetahuan yang didapat dibenturkan dengan kondisi real di masyarakat saya yakin aka nada satu kesadaran yang akan memmbentuk rasa kepedulian terhadap masyarakat yang masih bertumpuk-tumpuk ketimpangan dan tidak terjamahnya hak-hak maupun kewajiban-kewajiban sebagai masyarakat dari suatu bangsa dan Negara.
Menjadi satu kesadaran bersama bahwa sejak adanya mahasiswa banyak terjadi perubahan-perubahan yang telah diperjuangkan oleh mahasiswa. Mulai dari pra kemerdekaan, peristiwa MALARI, maupun pada masa reformasi yang mampu menggulinkan rezim bertangan besi yang dipimpin oleh Soeharto, dan sudah sepantasya kita berterimakasih pada pejuang mahasiswa dan tokoh besar seperti almarhum GUS DUR sang jendral pluralisme dan demokrasi .
Realita kekinian harus segera di buka dan di bedah oleh mahasiswa dengan analisis kritis transformative pengetahuanya sehingga tercipta tatanan yang lebih baik dari semua level birokrat di negri ini.
Coretan ini sekedar refleksi dalam kancah pergulatan kemahasiswaan yang memiliki nurani, jangan sampai idiolgi agung mahasiswa berubah menjadi pragmatis dan apatis terhadap lingkungan sekitar. Pertanyaan besar untuk kita yaitu…………..BAGAIMANA DENGAN KITA?

Forum Lesehan Pojok Kampus

”Resah dan Gelisah”
“Hmmmm. . . .bukan lagunya Alm. Crisye lho. . . .???
Hehehehehehehehehehehe. . . . . . . .”
Koq malah guyonan tho maz. . . .?
“Kan memang Negara Unsiq ini adalah humor kang? Banyak yang bikin cengengas-cengingis sendiri. . .”
System dikampus UNSIQ mulai dari system pengajaranya sampai pada kebijakan-kebijakan manusia-manusia yang berada dalam singgasana di UNSIQ baik tingkatan Civitas Akademika Unsiq maupun organisasi-organisasi Intra di Unsiq, banyak mahasisiwa persentasenya ±86,60 % dari para seluruh mahasiswa kampus merasa Resah dan Gelisah,. dikampus jarang yang membicangkan soal problematika bangsa, kampus, social kemasyarakatan, ilmu pengetahuan, agama dll. .kampus koq seperti kuburan intelektual yang penuh dengan hantu-hantu hedonism, individualis dan pragmatisme. . . lho koq bisa gitu ya. . . .?, kenapa sich. . .? ada apa tho. . .?
Maz koq kuliah sering kosong padahal sudah bayar mahal-mahal koq. . .? terus uang semesteran, kemahasiswaan, praktik, SPL dll buat apa aja sich? Koq kita gak pernah tau ya? Rincianya untuk gimana aj. . .?, ya asalkan jangan buat jajan tempe kemul dan mie ongklok aja uang itu, klo dimakan bareng-bareng mahasiswa dan semua jajaran yang ada dikampus UNSIQ kan asyik jadi rame. . .bisa masuk Rekor MURI lho jadi terkenal ne. . .bisa masuk tipi. . .
Kang emangnya kampus itu warung itu warung gorengan, ,koq malah mau makan goerengan massal. .?
Habisnya jarang makan gorengan sich maz, uangnya habis buat ini. . .itu. . .tapi gak jelas hasilnya. . .? ?
Namanya aja kuliah kang yow wajib gitu. .
waah klo seperti itu nanti tak buat Universitas aja ya. .bisa memperkaya diri. . .? bisa jalan-jalan kemana aja dengan memakai nama kampus kan asyik. .bisa foto-foto, . .heppy. . .heppy. . .apa lagi pake baju identitas kampus kelihatan gagah dan perkasa. . .
kang. . ? kang. . ? ono. .ono. .wae rika. .?
lha wong koyo ngono koq. .piye nek wis ngene iki. . .?
KILAS BALIK SEJARAH PMII
(Al-Muhafadhatu ‘ala Qadim al-Shalih wa al-Ijad bi al-Jadid al-Ashlah)

Oleh : Pengurus KOMISARIAT AHIMSA UNSIQ
PMII adalah bagian dari sejarah Indonesia. Mulai dari awal proses kemunculannya, proses lahirnya sampai proses perjalanannya hingga sekarang, PMII telah menjadi saksi dari sejarah perjalanan Indonesia.
Selain itu, PMII juga sejarah bagi dirinya sendiri. PMII pernah jaya dan pernah terpuruk. PMII pernah bersitegang akibat perdebatan tentang politik praksis dan PMII pernah ditendang dari wilayah strategis. Semua itu bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan PMII.
Dalam proses pemunculannya, PMII tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial politik tahun 1950-an. Ketika itu, telah muncul organisasi-organisasi kepemudaan seperti HMI (ketika itu underbow Masyumi) SEMMI (dengan PSII) KMI (dengan PERTI) IMM (dengan Muhammadiyah) dan HIMMA (dengan Wasillah).
Banyaknya organisasi tersebut, membuat anak-anak NU ingin mendirikan wadah yang bernaung di bawah panji bola dunia. Akhirnya, pada tahun 1955 di dirikanlah IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) oleh tokoh-tokoh PP-IPNU. Namun, IMANU tidak berumur panjang. Sebab, PBNU tidak merestui dengan alasan yang sangat logis: “IPNU didirikan baru tanggal 24 Februari 1954 dan dengan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi”.
Tetapi sampai pada Kongres IPNU ke 2 (Awal 1957 di pekalongan)dan ke 3 (akhir 1958 di Cirebon) NU masih memandang belum perlu adanya organisasi kemahasiswaan. Baru kemudian pada tahun 1959 IPNU membuat departemen yang kemudian dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Satu tahun kemudian setelah Departemen Perguruan Tinggi IPNU ini dianggap tidak efektif dan tidak cukup menampung aspirasi mahasiswa NU, maka pada Konprensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960) di Kaliurang sepakat mendirikan organisasi tersendiri.
Rekomendasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh 13 tokoh, yakni; Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Shabih ubaid (Jakarta), Makmun Syukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nachrawi (Yogyakarta), Nurilhuda Suady HA. (Surakarta), Laily Mansyur (Surakarta), Abdul Wahab Djailani (semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Chalid Marbuko (Malang), dan Ahmad Husein (Makasar). Pada tanggal 14-16 April 1960, mereka menggodok organ baru di TPP Khadijah Surabaya. Akhirnya, tanggal 17 April 1960 lahirlah organisasi mahasiswa NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tidak berselang lama, tahun 1961 PMII melaksanakan Kongres I di Tawangmangu, Solo yang menghasilkan deklarasi Tawangmangu. Dari sini dimulailah kiprah PMII dalam percaturan nasional. Tahun 1963 kongres ke-2 PMII digelar di Yogyakarta. Kongres ini menegaskan kembali esensi Deklarasi Tawangmangu yang dikenal dengan Penegasan Yogyakarta. Tahun 1965 PMII mengadakan TC II di Megamendung, Bogor untuk menyikapi problem kehidupan masyarakat dan negara.
Pada masa ini, terjadi gejolak yang mempengaruhi situasi nasional. Mahasiswa menyikapinya dengan berbagai aksi dengan berbagai organ taktis seperti KAMI dan KAPPI. Dalam proses ini, PMII mengambil tempat terdepan. Bahkan, Ketua Umum PB PMII, Zamroni menjadi ketua KAMI/KAPPI dari awal sampai akhir berdirinya.
Dalam perjalanan selanjutnya, PMII merasa tidak strategis dan mengalami keterbatasan langkah di bawah naungan NU –ketika itu berfusi ke PPP. Maka pada tahun 1972, PMII mendeklarasikan Independensi dari NU dalam ajang Munas di Murnajati. Deklarasi ini terkenal dengan Deklarasi Murnajati. Adapun tim perumus Deklarasi Murnajati adalah; Umar Basalin (Bandung), Madjidi Syah (Bandung), Slamet Efendi Yusuf (Yogyakarta), Man Muhammad Iskandar (Bandung), Choirunnisa’ Yafizhan (medan), Tatik Farikhah (Surabaya), Rahman indrus dan Muiz Kabri (Malang).
Kiprah PMII pasca independen tidak banyak terekam, karena minimnya dokumen, termasuk posisi PMII ketika kasus Malari. Tetapi yang jelas, ketika rezim orde baru berkuasa, PMII dipinggirkan dan dibatasi perannya. Kemudian, PMII berusaha mengambil langkah-langkah strategis untuk menunjukkan eksistensi dan kiprahnya. Baru tahun 1989 PMII melakukan Penegasan Cibogo (Kongres Medan) dan merevisi pola hubungan NU-PMII dengan pola interdependensi. Deklarasi Interdependensi terjadi ketika Kongres X PMII di Pondok Gede, Jakarta, tahun 1991. Setelah itu, PMII terlibat dengan berbagai gerakan, termasuk gerakan Reformasi tahun 1998 dengan terang-terangan atau masuk ke dalam organ-organ gerakan taktis.
Kumpulan serpihan sejarah PMII menjadi penting sebagai cermin bagi kita untuk mengayunkan langkah ke arah yang lebih baik. Sehingga, kader PMII tidak mengalami disorientasi dan kegagapan dalam menghadapi perubahan. Apalagi, tradisi dokumentasi dirasakan sangat minim di PMII. Dalam buku-buku sejarah gerakan mahasiswapun, PMII jarang disebut. Disamping itu, para founding fathers PMII, satu per satu meninggal dunia, seperti Mahbub Junaidi, Zamroni dll.



Sumber :
1. Effendi Choirie dan Choirul Anam (1991), Pemikiran PMII dalam berbagai Persepsi, Surabaya, AULA NU.
2. Mahbub Djunaidi dalam pengantar Effendi Choirie dan Choirul Anam (1991), Pemikiran PMII dalam berbagai Persepsi, Surabaya, AULA NU
3. Hasil wawancara dengan Fauzan Alfas (Alumni PMII Malang)
4. Hasil wawancara dengan Slamet Effendi Yusuf (Alumni PMII Yogyakarta, Deklarator Independensi PMII di Murnajati dan sekarang Ketua DPP Golkar dan Ketua Pelaksana Konvensi Calon Presiden Golkar).
KILAS BALIK SEJARAH PMII
(Al-Muhafadhatu ‘ala Qadim al-Shalih wa al-Ijad bi al-Jadid al-Ashlah)

Oleh : Pengurus KOMISARIAT AHIMSA UNSIQ
PMII adalah bagian dari sejarah Indonesia. Mulai dari awal proses kemunculannya, proses lahirnya sampai proses perjalanannya hingga sekarang, PMII telah menjadi saksi dari sejarah perjalanan Indonesia.
Selain itu, PMII juga sejarah bagi dirinya sendiri. PMII pernah jaya dan pernah terpuruk. PMII pernah bersitegang akibat perdebatan tentang politik praksis dan PMII pernah ditendang dari wilayah strategis. Semua itu bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan PMII.
Dalam proses pemunculannya, PMII tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial politik tahun 1950-an. Ketika itu, telah muncul organisasi-organisasi kepemudaan seperti HMI (ketika itu underbow Masyumi) SEMMI (dengan PSII) KMI (dengan PERTI) IMM (dengan Muhammadiyah) dan HIMMA (dengan Wasillah).
Banyaknya organisasi tersebut, membuat anak-anak NU ingin mendirikan wadah yang bernaung di bawah panji bola dunia. Akhirnya, pada tahun 1955 di dirikanlah IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) oleh tokoh-tokoh PP-IPNU. Namun, IMANU tidak berumur panjang. Sebab, PBNU tidak merestui dengan alasan yang sangat logis: “IPNU didirikan baru tanggal 24 Februari 1954 dan dengan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi”.
Tetapi sampai pada Kongres IPNU ke 2 (Awal 1957 di pekalongan)dan ke 3 (akhir 1958 di Cirebon) NU masih memandang belum perlu adanya organisasi kemahasiswaan. Baru kemudian pada tahun 1959 IPNU membuat departemen yang kemudian dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Satu tahun kemudian setelah Departemen Perguruan Tinggi IPNU ini dianggap tidak efektif dan tidak cukup menampung aspirasi mahasiswa NU, maka pada Konprensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960) di Kaliurang sepakat mendirikan organisasi tersendiri.
Rekomendasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh 13 tokoh, yakni; Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Shabih ubaid (Jakarta), Makmun Syukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nachrawi (Yogyakarta), Nurilhuda Suady HA. (Surakarta), Laily Mansyur (Surakarta), Abdul Wahab Djailani (semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Chalid Marbuko (Malang), dan Ahmad Husein (Makasar). Pada tanggal 14-16 April 1960, mereka menggodok organ baru di TPP Khadijah Surabaya. Akhirnya, tanggal 17 April 1960 lahirlah organisasi mahasiswa NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tidak berselang lama, tahun 1961 PMII melaksanakan Kongres I di Tawangmangu, Solo yang menghasilkan deklarasi Tawangmangu. Dari sini dimulailah kiprah PMII dalam percaturan nasional. Tahun 1963 kongres ke-2 PMII digelar di Yogyakarta. Kongres ini menegaskan kembali esensi Deklarasi Tawangmangu yang dikenal dengan Penegasan Yogyakarta. Tahun 1965 PMII mengadakan TC II di Megamendung, Bogor untuk menyikapi problem kehidupan masyarakat dan negara.
Pada masa ini, terjadi gejolak yang mempengaruhi situasi nasional. Mahasiswa menyikapinya dengan berbagai aksi dengan berbagai organ taktis seperti KAMI dan KAPPI. Dalam proses ini, PMII mengambil tempat terdepan. Bahkan, Ketua Umum PB PMII, Zamroni menjadi ketua KAMI/KAPPI dari awal sampai akhir berdirinya.
Dalam perjalanan selanjutnya, PMII merasa tidak strategis dan mengalami keterbatasan langkah di bawah naungan NU –ketika itu berfusi ke PPP. Maka pada tahun 1972, PMII mendeklarasikan Independensi dari NU dalam ajang Munas di Murnajati. Deklarasi ini terkenal dengan Deklarasi Murnajati. Adapun tim perumus Deklarasi Murnajati adalah; Umar Basalin (Bandung), Madjidi Syah (Bandung), Slamet Efendi Yusuf (Yogyakarta), Man Muhammad Iskandar (Bandung), Choirunnisa’ Yafizhan (medan), Tatik Farikhah (Surabaya), Rahman indrus dan Muiz Kabri (Malang).
Kiprah PMII pasca independen tidak banyak terekam, karena minimnya dokumen, termasuk posisi PMII ketika kasus Malari. Tetapi yang jelas, ketika rezim orde baru berkuasa, PMII dipinggirkan dan dibatasi perannya. Kemudian, PMII berusaha mengambil langkah-langkah strategis untuk menunjukkan eksistensi dan kiprahnya. Baru tahun 1989 PMII melakukan Penegasan Cibogo (Kongres Medan) dan merevisi pola hubungan NU-PMII dengan pola interdependensi. Deklarasi Interdependensi terjadi ketika Kongres X PMII di Pondok Gede, Jakarta, tahun 1991. Setelah itu, PMII terlibat dengan berbagai gerakan, termasuk gerakan Reformasi tahun 1998 dengan terang-terangan atau masuk ke dalam organ-organ gerakan taktis.
Kumpulan serpihan sejarah PMII menjadi penting sebagai cermin bagi kita untuk mengayunkan langkah ke arah yang lebih baik. Sehingga, kader PMII tidak mengalami disorientasi dan kegagapan dalam menghadapi perubahan. Apalagi, tradisi dokumentasi dirasakan sangat minim di PMII. Dalam buku-buku sejarah gerakan mahasiswapun, PMII jarang disebut. Disamping itu, para founding fathers PMII, satu per satu meninggal dunia, seperti Mahbub Junaidi, Zamroni dll.



Sumber :
1. Effendi Choirie dan Choirul Anam (1991), Pemikiran PMII dalam berbagai Persepsi, Surabaya, AULA NU.
2. Mahbub Djunaidi dalam pengantar Effendi Choirie dan Choirul Anam (1991), Pemikiran PMII dalam berbagai Persepsi, Surabaya, AULA NU
3. Hasil wawancara dengan Fauzan Alfas (Alumni PMII Malang)
4. Hasil wawancara dengan Slamet Effendi Yusuf (Alumni PMII Yogyakarta, Deklarator Independensi PMII di Murnajati dan sekarang Ketua DPP Golkar dan Ketua Pelaksana Konvensi Calon Presiden Golkar).
Rumusan Kaderisasi Informal

a. Rumusan Strategis, Pola Rekruitmen, Mentoring dan Maintenance
A. Model : small group / sel belajar/ desentralisaasi aktifitas kader
Metode : - monitoring
- evaluasi kader (catatan – catatan)
Target : - ideologisasi gerakan ( radikalisasi wacana/ materi – materi)
- pengembangan profesionalisme keilmuan
- perhatian atas kader
Pelaksana (aktor) : struktur formal ( PC, PK, PR) atau non formal (individu) atau tim kerja
B. Model : struktur kekeluargaan
Metode : - kunjungan / silaturrahim berkala/ periodik
- tadabur / tafakur sosial
- Refreshing
Target : - solidaritas intra kader gerakan
- menajamkan ”radar sosial”
Pelaksana (aktor) : struktur formal dan non formal

C. Model : Sekolah aksi sosial
Metode : - Pengobatan gratis
- Jualan buku – buku teks (teks book)
Target : - Penguatan kapasitas mengorganisir aksi sosial kader
- membangun kedekatan dengan rakyat miskin
- merebut simpati sosial (image building ) gerakan
Pelaksana (aktor) : struktur formal dan non formal
D. Model : Politik Diaspora Gerakan
Metode : - Kursus stratak / politik kampus / antropologi kampus
Target : - Merebut kepemimpinan kampus ( sayap gerakan )
- membangun kantong – kantong mahasiswa
Pelaksana (aktor) : struktur formal dan non formal



b. Kurikulum Tentatif
Untuk small group : materi; diskursus sebuah agama, ilmu sosial humaniora, sosial keilmuan dan pelatihan advokasi

NO. MODEL MATERI WAKTU PELAKSANA
1. SMALL GROUP Diskursus Agama, Ilmu social Humaniora, Pelatihan advokasi, basic ilmu kader Proses MAPABA dan Pasca MAPABA Struktur Formal dan non formal
2. STRUKTUR KEKELUARGAAN Analisa diri
Analisa sosial Pasca MAPABA sda
3. AKSI SOSIAL Manajemen Aksi Massa
Pelayanan Publik Pasca MAPABA dan PKD Sda
4. POLITIK DIASPORA GERAKAN Antropologi kampus
Kursus Stratak
Kepemimpinan Gerakan0 Pasca MAPABA dan PKD sda
5. CATATAN – CATATAN KRITIK


BUKU MENUJU AKSI SOSIAL
Formal Basic


MAPABA
Orientasi : - Penanaman idealisme
- Doktrin Gerakan
Pendekatan : - INDOKTRINASI
Follow up : - Study akultatif : agama dan sosial ( normatif teoritik)
Wjib Ain : - Study Epistimologi
- Bahasa Inggris
Masa Proses : 6 (enam ) bulan

PKD
Orientasi : a. Komitmern pada gerakan sosial
b. Dasar – dasar kemampuan Praksis
Pendekatan : a. DOKTRINASI
b. Partisipatiris
Follow up : - Study – study pengembangan tentang masalah kebangsaan actual, kemasyarakatan (Respon Persoalan Sosial)
Wjib Ain : - Sekolah Analisa Sosial
- Bahasa Inggris Intermediet
Wajib Pilihan : - Pelatihan Advokasi
- Pelatihan Penelitian Akademik
- Pelatihan Jurnalistik
Masa Proses : 12 s.d 24 bulan

PKL
Orientasi : - Mengelola Organisasi
- Leadership
- Manajerial
Pendekatan : - PARTISIPATORIS
Follow up : - Study POLITIK, Mengelola Aksi Sosial
Wajib Pilihan : - Pengembangan Kepribadian
- TOT
Masa Proses : sampai tamat atau Alumni



KADERISASI FORMAL
MAPABA
Orientasi :
1. Penanaman nilai –nilai ke- PMII-an (Keislaman, Keindonesiaan, dan kemahasiswaan)
2. Meyakini PMII sebagai Way of Life
Target & Tujuan : KADER MILITAN
Pendekatan : Indoktrinasi
Sistem : PENDAMPINGAN
Materi : I. Ke- PMII- an
a. NDP (2 jam)
b. Keorganisasian PMII ( 2 jam)
 Pemahaman Konstitusi
 Manajemen Organisasi
c. Sejarah PMII dalam dialektika GM (2 jam)

II. Ke – Mahasiswa-an
a. Mahasiswa dan tanggungjawab Sosial ( 2 Jam)
III. Ke – Islam – an
a. Ke – Islam – an & Ke – Indonesia – an
 Prinsip – prinsip universalisme Islam (Ihsan, Iman dan Islam )
 Sejarah Islam di Indonesia
 Islam Keadilan dan Transformasi Sosial (2 jam)

IV. Ke – Indonesia – an
a. Sejarah dan Dinamika Kebangsaan (2 jam )
V. Bina Suasana
a. Study Gender ( 1 jam )
• Metode : Role Playing
• Setting suasana bias gender dan adil gender yang akan dievaluasi pada akhir MAPABA
b. General Review ( 2 jam)
VI. Muatan Lokal
a. Antropologi Kampus (2 Jam)
• Geografi
• Psykografi
• Demografi
• Sosiologis
b. Sejarah dan Dinamika Gerakan PMII Lokal ( 2 jam)
c. Materi tentang disiplin ilmu masing – masing (2 jam)
d. General Review dan Follow up (2 jam)
e. Kontrak Belajar ( 2 jam)
JUMLAH :
• 13 materi
• 25 jam

PKD
1. Orientasi :
• Komitmen Pada Gerakan Sosial
• Dasar – dasar Kemampuan Praksis
2. Target dan Tujuan : KADER PEJUANG
3. Pendekatan :
• Doktrinasi
• Partisipatoris
4. Sistem : PENDAMPINGAN
5. Materi :
1. Aswaja sebagai Manhajul Fikr ( 2 jam)
2. Islam dan Pembebasan Kaum Mustadl’afiin ( 2 jam)
3. Paradigma (Paradigma Kritis Transformatif / Paradigma Gerakan PMII) (2 jam)
• Dibuatkan Forum tersendiri untuk membedah Paradigma Kritis Transformatif sebelum terbentuk handout pengkaderan
• Tujuan forum adalah untuk mengetahui paradigma gerakan mahasiswa yang akan dimasukkan pada hand out pengkaderan
4. Analisa Sosial
5. Analisa Wacana ( direkomendasikan untuk non formal wajib)
6. Ideologi – ideologi Besar Dunia (direkomendasikan untuk non formal wajib)
7. Sejarah Perubahan Sosial ( 2 jam )
8. Strategi Pengembangan PMII ( 2 jam)
9. Rekayasa Sosial dan Penguatan Masyarakat (2 jam)
10. Pola dan Strategi Pembangunan Indonesia ( 2 jam )
11. Sejarah dan Strategi Gerakan PMII dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan (2 jam)
12. Pengelolaan Opini dan Gerakan Massa ( 2 jam)
13. Perencanaan Program dan Penyusunan Proposal (direkomendasikan untuk non formal)
14. Pengorganisasian tim kerja di lapangan ( 2 jam)
15. Kontrak Belajar ( 2 jam)
16. General Review ( 2 jam )
JUMLAH :
• 3 Materi non formal
• 13 materi formal
• 26 jam

PKL
Orientasi : Pengelola Organisasi
• Leadership
• Managerial
Target dan Tujuan : AVANT GARDE ( PELOPOR)
1. Mampu mendesain gerakan internal dan eksternal PMII
2. Memiliki Kualifikasi sebagai Leader di PMII dan Masyarakat
Pendekatan : Partisipatoris
Sistem : PENDAMPINGAN
Materi :
1. Kontrak Kerja ( 2 jam )
2. Citra diri Pemimpin PMII (2 jam)
3. Kepemimpinan dalam konsepsi Islam ( 2 jam)
4. Kepemim[pinan dan Situasional Organ (2 jam)
5. Analisis Perilaku Kepemimpinan ( 2 jam )
6. Pedoman Penilaian Analisis Kepemimpinan (2 jam)
7. Psikologi Sosial ( 2 jam )
8. Management ( 2 jam)
9. Keorganisasian ( 2 jam )
10. Komunikasi ( 2 jam)
11. Komunikasi Publik Dan Pemasaran Ide ( 2 jam )
12. Membangun tim kerja / kepanitiaan ( 2 jam )
13. Pengambilan Keputusan ( 2 jam )
14. Manageman Keuangan ( 2 jam )
15. Penguatan kelembagaan dan optimalisasi kinerja organ ( 2 jam )
16. Isu Kepemimpinan Aktual ( 2 jam )
17. Studi Banding ( 2 jam )
18. Studi Observasi Lapangan ( 2 jam )
19. Geopolitik Lokal, Nasional dan Global ( 2 jam )
20. Management Konflik ( 2 jam )
21. Teknik Lobbying dan Net working ( 2 jam )
22. Analisis Media ( 2 jam )
23. Tindal Lanjut dan Evaluasi ( 2 jam )
JUMLAH :
• 23 Materi
• 46 jam


{ Dibutuhkan Hand out materi pengkaderan }







PELATIHAN NONFORMAL
[ PRIORITAS]

NO. SKALA PRIORITAS ORIENTASI OUT PUT OUT COME
1. Keislaman  Memberikan pemahaman tentang Islam
 Pencitraan Organisasai Kader paham tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamiin  toleransi antar umat
 Kepedulian / kepekaan terhadap sesama
 Opini masyarakat positif
-
2. Kemampuan bahasa asing Memiliki kemampuan bahasa asing Kader yang mampu bicara dan menulis dengan bahasa asing Mampu bersaing di era globalisasi
3. Jurnalistik Memiliki kemampuan jurnalistik Bisa menulis dan menuangkan ide dengan baik serta mampu mengolah data Mempunyai media publik dan menguasai opini publik
4. Administrasi dan manajemen Memiliki kemampuan mengolah administrasi dan manajemen organisasi Kader mampu mengatur administrasi organisasi PMII menjunjung tinggi administrasi dan manajemen
5. Pendidikan Politik Membentuk nalar politik kader Memahami politik dan leadership yang handal serta ahli dalam strategi dan taktik Menguasai lembaga – lembaga strategis
6. Manajemen Komunikasi Memahami komunikasi  Mampu berkomunikasi dengan sistematis
 Orator yang baik
 Ahli Lobby Terciptanya jaringan yang kuat
7. Pelatihan ANSOS Mampu menganalisis realitas sosial Paham realitas sosial  Melihat realitas secara obyektif
 Motor penggerak perubahan sosial
8. Advokasi Memahami advokasi Melakukan advokasi Bisa mendampingi masyarakat melawan penindasan
9. Filsafat Memahami filsafat Memiliki landasan berpikir yang kritis dan sistematis Sistem pemikiran yang sistematis
10. If Studi gender Membentuk kader yang sensitif gender Paham tentang teori gender Menciptakan kesetaraan gender
11. Kemampuan tehnologi Memahami teknologi Mampu mengoperasionalkan Opersional tehnologi untuk menunjang
organisasi
12. Kewirausahaan Memahami kaidah – kaidah kewirausahaan Mampu berusaha (mandiri) Menganalisa pasar
13. Pelatihan fasilitator Mengetahui teknik – tehnik pelatihan Menjadi fasilitator yang baik Mampu menguasai forum person
14. Analisa KEbijakan Publik Memahami proses – proses kebijakan publik Mampu menganalisis kebijakan publik melakukan advokasiA
15. Penelitian Memiliki kemampuan penelitian Mampu meneliti Melakukan kegiatan penelitian
16. Seni dan Budaya Menghayati apa itu seni dan budaya Kepekaan terhadap seni dan budaya Menjadi seniman dan budayawan





SKALA PRIORITAS NASIONAL

SKALA PRIORITAS

1. Pelatihan jurnalistik
2. Keislaman
3. Administrasi dan Manajemen Organisasi
4. Seni dan Budaya
5. Pelatihan Fasilitator
6. Kemampuan Bahasa Asing
7. Pelatihan Penelitian
8. Study Filsafat
9. Pelatihan ANSOS
10. Pendidikan Politik
11. Pendidikan Advokasi
12. Manajemen komunikasi
13. Pecinta Alam (INFORMAL)
14. Kemampuan Tehnologi
15. Studi Gender
16. Kewirausahaan
17. Analisa Kebijakan Publik (Hukum & Anggaran) / Pasar Modal
18. Penguasaan Disiplin Ilmu (INFORMAL)
19. Olah raga (INFORMAL)

ADA :
 16 Kegiatan NON FORMAL
 3 Kegiatan INFORMAL




NON FORMAL: PASCA MAPABA, PKD & PKL

Definisi : Proses tindak lanjut yang tidak bertentangan atau sama dengan kegiatan formal selanjutnya

Identifikasi Minat dan Bakat
1. Pelatihan Jurnalistik
2. Advokasi
3. Analisis Sosial (Kemajuan Menganalisis)
4. Seni umum dan Agama
5. MAPALA
6. Kewirausahaan
7. Kemampuan Meneliti
8. Pengajian
9. Manajemen Organisasi
10. Manajemen Aksi
11. Manajemen Komunikasi ( Retorika)
12. Manajemen Forum (Kemampuan Memfasilitatori Forum)
13. Pelatihan Internet/ teknologi dasar
14. Analisa Pasar Modal
15. Kemampuan Lobbying
16. Adimistrasi
17. Rekayasa Teknologi Kerakyatan
18. Bercocok tanam
19. Kemampuan Berbahasa Asing
20. Kemampuan Berceramah
21. Pemetaan Politik Kampus
22. Analisa Kebijakan Publik (UU)
23. Monitoring Anggaran
24. Memahami OTODA (Otonomi Daerah)
25. Penguasaan Disiplin Ilmu
26. Manajemen Konflik
27. Olahraga
28. Pembuatan Proposal
MANAJEMEN ORGANISASI

Prolog

Istilah “manajemen” seringkali menimbulkan tanggapan yang campur aduk, apalagi di lingkungan organisasi nirlaba. Soalnya istilah-istilah tersebut menimbulkan kesan sebagai suatu kumpulan pejabat organisasi perusahaan atau pabrik (karena istilah ini memang berasal dari sana)yang menentang para pekerja mereka, padahal organisasi nirlaba justru sangat tertarik untuk mengorganisir kaum buruh. Seringkali istilah manajemen memang diartikan sebagai sekelompok orang pimpinan dalam “manajemen” . Kita seringkali mendengar seseorang di sebuah perubahan atau pabrik mengatakan: “Pihak manajemen sudah memutuskan...”, “Saya sudah melaporkan kepada pihak manajemen” dan sebagainya. Kelompok(pimpinan) manajemen ini memang sering dianggap sebagai biang keladi semua ketidakberesan yang terjadi dalam suatu organisasi, atau bahkan ketidakberesan yang terjadi di tengah masyarakat luas. Tidak heran jika banyak manajer yang sering tak mau dikenali sebagai manajer. Lebih dari itu, istilah manajemen terlalu sering dikaitkan dengan sebuah perusahaan yang sekedar mencari untung.(Terj: Roem Topatimasang, P3M, 1988)
Penggalan paragrap diatas menunjukkan bahwa sebetulnya istilah “manajemen” masih bias. Ada semacam anggapan bahwa manajemen organisasi adalah tidak sama antara masing-masing organisasi, provit dan non-provit. Dalam organisasi provit, hal ini lebih dikenal dengan istilah Public Relations(PR).
Dalam tulisan ini akan dijelaskan pengertian manajemen yang sesuai dengan organisasi nirlaba. Bahwasanya setiap organisasi membutuhkan suatu sistem yang menjalankan fungsi-fungsi vital, sebagai berikut:

Mengintegrasikan organisasi sebagai salah satu bagian dari masyarakat luas

Setiap organisasi adalah bagian dari suatu sistem yang lebih besar (masyarakat) yang akan mempengaruhi sistem, dan organisasi itu merupakan salah satu bagian (sub-sistem)nya. Ini penting dipahami karena seseorang atau kelompok-kelompok tertentu akan mencurahkan perhatiannya pada hubungan antara organisasi dengan lingkungannya dalam rangka membantu organisasi untuk mengetahui, menyerap perubahan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan tersebut.

Menjamin kemudahan memperoleh sumberdaya

Fungsi ini merupakan fungsi yang sangat penting. Sebab semua organisasi memperoleh sumberdaya di lingkungannya. Sumberdaya tersebut umumnya terpakai habis, sehingga sumberdaya yang baru harus segera ditemukan. Jika organisasi gagal memberikan pelayanan jasa yang tepatguna dan boros menyalurkan sumberdaya dari lingkungannya, cepat atau lambat kemudahan mendapatkan sumberdaya tersebut semakin terbatas. Padahal sebuah organisasi nirlaba menggantungkan dana hibah dari luar, dan setiap orang dalam organisasi itu tahu bagaimana pentingnya menjaga hubungan yang baik dengan donor yang menjadi sumbernya. Sumberdaya lain yang terpenting adalah manusia. Bagi organisasi nirlaba, hal ini menjadi lebih penting dibandingkan dengan organisasi yang lain. Anggota yang potensial atau sukarelawan akan mempertimbangkan visi, misi, tujuan dan pencapaian hasil organisasi. Pekerja yang potensial atau sukarelawan akan mempertimbangkan hal-hal tersebut sebagai dasar apakah ia akan bergabung atau tidak dengan organisasi tersebut. Jadi kemudahan memperoleh sumberdaya manusia harus tetap menjadi perhatian dari manajemen organisasi nirlaba.

Hubungan dengan klien(Pemakai dan penerima jasa)

Suatu organisasi didirikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Adanya kebutuhan tersebut mendorong lahirnya organisasi sehingga orang-orang mau menjadi kliennya. Melakukan pendekatan dengan orang-orang adalah perhatian utama dari manajemen organisasi nirlaba. Selama organisasi memuaskan kebutuhan klien, hubungan baik dengan mereka mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi, organisasi dapat kehilangan hubungan baiknya dengan klien, karena pemenuhan kebutuhan mereka tidak berlanjut atau karena beberapa alasan lain. Sekali suatu organisasi telah dibentuk, ia harus bekerja keras untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kliennya, meskipun pada awalnya tampak mereka tidak mau memenuhi kebutuhan tersebut. Pada organisasi nirlaba, mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya demi mempertahankan hubungan baik dengan konsumen mereka, dan telah menemukan berbagai metode kreatif untuk mendapatkan dukungan dari pelanggan potensial. Organisasi dapat belajar dari pengalaman tersebut.

Memantapkan misi organisasi

Semua organisasi membutuhkan kemantapan dan keberlangsungan misi mereka. Ini merupakan fungsi dari sistem manajemen organisasi nirlaba unjuk menjelaskan dan menyampaikannya kepada klien. Penjelasan tersebut harus memuat aspek-aspek penting organisasi, termasuk jasa kepada klien, pencapaian hasil kerja dan produktivitas, penggunaan sumberdaya fisik dan finansial, penggunaan sumberdaya manusia, tanggungjawab kemasyarakatan, pembaharuan-pembaharuan, dan hasil-hasil karya kreatif yang telah dicapai selama ini.

Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengendalian, dan Evaluasi

Ini merupakan sederetan fungsi-fungsi manajemen tradisional yang dibutuhkan oleg organisasi nirlaba untuk menjamin organisasi yang bersangkutan berjalan baik. Fungsi perencanaan mencakup perumusan tujuan jangka pendek dan jangka panjang organisasi, serta mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Fungsi pengorganisasian adalah memadukan orang-orang dan tugas-tugas mereka dalam suatu struktur yang terencana, bukan semata-mata demi tugas itu sendiri, tetapi juga memuaskan kebutuhan orang-orang yang melaksanakannya. Jika organisasi tumbuh dan semakin menjadi besar, kebutuhan akan pengarahan muncul pula. Oleh sebab itu fungsi pengendalian harus diberlakukan juga. Fungsi pengawasan ini perlu untuk menjaga agar organisasi tetap berjalan pada jalurnya dan untuk mengorek kesalahan yang terjadi. Akhirnya, fungsi evaluasi dibutuhkan untuk menentukan tercapai atau tidaknya tujuan organisasi.

Mengintegrasikan Sub-Sistem Sosial dan Tugas-tugas

Sub-sistem sosial suatu organisasi menjamin penyediaan orang-orang yang mau bekerja dan sub-sistem tugas menentukan pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh mereka. Kedua sub-sistem ini akan menimbulkan kegawatan jika antara keduanya saling bertentangan. Mesti ada sistem manajemen yang harus menjamin, bahwa kedua sub-sistem ini benar-benar berjalan seiring. Kita semua pasti memiliki pengalaman bekerja di dalam suatu sistem dimana pekerjaan-pekerjaan tersebut dicampur-adukkan dengan motivasi kita untuk melaksanakannya. Atau, kita-pun sudah sering melaksanakan tugas yang terlalu enteng, rutin, monoton dan membosankan; atau tugas-tugas justru terlalu rumit, terputus-putus dan membingungkan. Jika hal ini terjadi, sulit mempertahankan staf yang berkemampuan agar betah bekerja. Contoh-contoh klasik dari dua keadaan ekstrim ini adalah putusnya hubungan baik dengan staf pada suatu sisi dan tidak berdayanya tim pemecah masalah tersebut pada sisi yang lain. Hal-hal di atas merupakan unsur-unsur penting dan mutlak dalam suatu organisasi. Semuanya merupakan suatu ukuran baku yang disebut sebagai Fungsi Manajemen. Tulisan ini disusun atas dasar kaidah-kaidah tersebut.

Sekarang kita telah mengetahui pengertian manajemen secara umum. Mari coba kita lihat bagaimana fungsi-fungsi manajemen tersebut ditampilkan dalam organisasi ini.

Latihan
1. Pikirkan beberapa perubahan yang terjadi di lingkungan luar organisasi anda, yang benar-benar mempengaruhi organisasi anda. Tuliskan beberapa perubahan tersebut.
2.
POLA PEMBINAAN PENGEMBANGAN DAN PERJUANGAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Oleh: Sutomo E. Putro

A.Pengertian :
Digunakan atas dasar sasaran, kondisi, subyek dan obyek yang hendak dicapai.
1. Pembinaan, Pengembangan dan Perjuangan.
Upaya mendidik baik formal maupun informal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, terpadu, teratur dan bertanggungjawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangkan suatu kepribadian yang seimbang dan utuh, baik jasmaniah maupun rohaniah.
2. Kondisi Kesehatan.
Upaya untuk menumbuhkan kreativitas mahasiswa dalam rangka kemajuan dan kemoderenan bangsa sekaligus sebagai mata rantai persambungan kepemimpinan bangsa.
3. Makna filosofi PMII
Pergerakan; menuntut adanya






















Pembinaan, Pengembangan dan Perjuangan; Upaya mendidik baik formal maupun informal yang dilaksanakan menumbuhkan, membimbing dan mengembangkan suatu kepribadian secara sadar, berencana, terarah, terpadu, teratur dan bertanggungjawab dalam rangka memperkenalkan, kepribadian yang seimbang dan utuh, baik jasmaniah maupun rohaniah.
A. Pengertian Kondisi Yang Sehat; P4 PMII, baik secara individual maupun organisatoris memerlukan kondisi dan suasana yang sehat. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kreativitas mahasiswa dalam rangka kemajuan dan kemoderenan bangsa sekaligus sebagai mata rantai persambungan kepemimpinan bangsa.
Makna Filosofi PMII; Pergerakan : Menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan potensi kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuan serta selalu dalam konteks kekhalifahan. Mahasiswa: Golongan generasi muda yang terbangun oleh identitas insan religius, insan akademis, insan sosial dan insan mandiri. Islam : Islam sebagai agama dipahami dengan paradiqma ahlussunnah wal jama’ah. Indonesia : Masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi Pancasila serta UUD ’45 dengan kesadaran kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara menuju tatanan masyarakat adil, dan makmur dalam ampunan dan ridlo Allah SWT.
Sebagai panduan organisasi untuk mencapai tujuan dan cita-cita PMII
B. Tujuan P4 PMII
Sebagai sarana operasionalisasi NDP yang diimplementasikan dalam bentuk P4 PMII baik jangka pendek maupun jangka panjang. Ideal; Islam Aswaja, Pancasila, UUD ’45, NDP
C. Landasan Struktural; AD/ART & Peraturan-peratural lainnya
Ketaqwaan Historis; Produk & dokumen Historis Organisasi Manfaat
D. Asas P4 PMII Kemasyarakatan E. Modal Dasar & Faktor Dominan
Kemahasiswaan F. Arah & Tujuan P4 PMII
Independen G. Strategis









Pembinaan, Pengembangan dan Perjuangan; Upaya mendidik baik formal maupun informal yang dilaksanakan menumbuhkan, membimbing dan mengembangkan suatu kepribadian secara sadar, berencana, terarah, terpadu, teratur dan bertanggungjawab dalam rangka memperkenalkan, kepribadian yang seimbang dan utuh, baik jasmaniah maupun rohd2175743 A. Pengertian Kondisi Yang Sehat; P4 PMII, baik secara individual maupun organisatoris memerlukan kondisi dan suasana yang sehat. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kreativitas mahasiswa dalam rangka kemajuan dan kemoderenan bangsa sekaligus sebagai mata rantai persambungan kepemimpinan bangsa.
.
Ke PMII-an

A. Historitas PMII
PMII, atau yang disingkat dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Indonesian Moslem Studens Movement) adalah Anak Cucu organisasi NU yang lahir dari rahim Departemen perguruan Tinggi IPNU.
Lahirnya PMII bukannya berjalan mulus, banyak sekali hambatan dan rintangan. Hasrat mendirikan organisasi NU sudah lama bergolak. namun pihak NU belum memberikan green light. Belum menganggap perlu adanya organisasi tersendiri buat mewadahi anak-anak NU yang belajar di perguruan tinggi. melihat fenomena yang ini, kemauan keras anak-anak muda itu tak pernah kendur, bahkan semakin berkobar-kobar saja dari kampus ke kampus. hal ini bisa dimengerti karena, kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat memungkinkan untuk lahirnya organisasi baru. Banyak organisasi Mahasiswa bermunculan dibawah naungan payung induknya. misalkan saja HMI yang dekat dengan Masyumi, SEMI dengan PSII, KMI dengan PERTI, IMM dengan Muhammadiyah dan Himmah yang bernaung dibawah Al-Washliyah. Wajar saja jika kemudiaan anak-anak NU ingin mendirikan wadah tersendiri dan bernaung dibawah panji bintang sembilan, dan benar keinginan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk IMANU(Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) pada akhir 1955 yang diprakarsai oleh beberapa tokoh pimpinan pusat IPNU.
Namun IMANU tak berumur panjang, dikarenakan PBNU menolak keberadaannya. ini bisa kita pahami kenapa Nu bertindak keras. sebab waktu itu, IPNU baru saja lahir pada 24 Februari 1954. Apa jadinya jika organisasi yang baru lahir saja belum terurus sudah menangani yang lain? hal ini logis seakli. Jadi keberatan NU bukan terletak pada prinsip berdirinya IMANU(PMII), tetapi lebih pada pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi.
oleh karenanya, sampai pada konggres IPNU yang ke-2 (awal 1957 di pekalongan) dan ke-3 (akhir 1958 di Cirebon). NU belum memandang perlu adanya wadah tersendiri bagi anak-anak mahasiswa NU. Namun kecenderungan ini nsudah mulai diantisipasi dalam bentuk kelonggaran menambah Departemen Baru dalam kestrukturan organisasi IPNU, yang kemudian dep[artemen ini dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU.
Dan baru setelah konferensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960 di kaliurang), disepakati untuk mendirikan wadah tersendiri bagi mahsiswa NU, yang disambut dengan berkumpulnya tokoh-tokoh mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU, dalam sebuah musyawarah selama tiga hari(14-16 April 1960) di Taman Pendidikan Putri Khadijah(Sekarang UNSURI) Surabaya. Dengan semangat membara, mereka membahas nama dan bentuk organisasi yang telah lama mereka idam-idamkan.
Bertepatan dengan itu, Ketua Umum PBNU KH. Dr. Idam Kholid memberikan lampu hijau. Bahkan memberi semangat pada mahasiswa NU agar mampu menjadi kader partai, menjadi mahasiswa yang mempunyai prinsip: Ilmu untuk diamalkan dan bukan ilmu untuk ilmu…maka, lahirlah organisasi Mahasiswa dibawah naungan NU pada tanggal 17 April 1960. Kemudian organisasi itu diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Disamping latar belakang lahirnya PMII seperti diatas, sebenarnya pada waktu itu anak-anak NU yang ada di organisasi lain seperti HMI merasa tidak puas atas pola gerak HMI.
Menurut mereka (Mahasiswa NU), bahwa HMI sudah berpihak pada salah satu golongan yang kemudian ditengarai bahwa HMI adalah kaki tangan-nya partai Masyumi, sehinggga wajar kalau mahasiswa NU di HMI juga mencari alternatif lain. Hal ini juga diungkap oleh Deliar Nur (1987), neliau mengatakan bahwa PMII merupakan cermin ketidakpuasan sebagian mahasiswa muslim terhadap HMI, yang dianggap bahwa HMI dekat dengan golongan modernis (Muhammadiyah) dan dalam urusan politik lebih dekat dengan Masyumi.
Dari paparan diatas bisa ditarik kesimpulan atau pokok-pokok pikiran dari makna dari kelahiran PMII:
• Bahwa PMII karena ketidak mampuan Departemen Perguruan Tinggi IPNU dalam menampung aspirasi anak muda NU yang ada di Perguruan Tinggi .
• PMII lahir dari rekayasa politik sekelompok mahasiswa moslim (NU) untuk mengembangkan kelembagaan politik menjadi underbow NU dalam upaya merealisasikan aspirasi politiknya.
• PMII lahir dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunah Waljama’ah dikalangan mahasiswa.
• Bahwa PMII lahir dari ketidakpuasan mahasiswa NU yang saat itu ada di HMI, karena HMI tidak lagi mempresentasikan paham mereka (Mahasisa NU) dan HMI ditngarai lebih dekat dengan partai MASYUMI.
• Bahwa lahirnya PMII merupakan wujud kebebasan berpikir, artinya sebagai mahasiswa harus menyadari sikap menentukan kehendak sendiri atas dasar pilihan sikap dan idealisme yang dianutnya.

Denagn demikian ide dasar pendirian PMII adalah murni dari anak-anak muda NU sendiri Bahwa kemudian harus bernaung dibawah panji NU itu bukan berarti sekedar pertimbangan praktis semata, misalnya karena kondisi pada saat itu yang memang nyaris menciptakan iklim dependensi sebagai suatu kemutlakan. Tapi lebih dari itu, keterikatan PMII kepada NU memang sudah terbentuk dan sengaja dibangun atas dasar kesamaan nilai, kultur, akidah, cita-cita dan bahkan pola berpikir, bertindak dan berperilaku.
Tetapi kemudian PMII harus mengakui dengan tetap berpegang teguh pada sikap Dependensi timbul berbagai pertimbangan menguntungkan atau tidak dalam bersikap dan berperilaku untuk sebuah kebebasan menentukan nasib sendiri.
oleh karena itu haruslah diakau, bahwa peristiwa besar dalam sejarah PMII adalah ketika dipergunakannya istilah Independent dalam deklarasi Murnajati tanggal 14 Juli 1972 di malang dalam MUBES III PMII, seolah telah terjadi pembelahan diri anak ragil NU dari induknya.
Sejauh pertimbangan-pertimbangan yang terekam dalam dokumen historis, sikap independensi itu tidak lebih dari dari proses pendewasaan. PMII sebagai generasi muda bangsa yang ingin lebih eksis dimata masyarakat bangsanya. Ini terlihat jelas dari tiga butir pertimbangan yang melatar belakangi sikap independensi PMII tersebut.
Pertama, PMII melihat pembangunan dan pembaharuan mutlak memerlukan insan-insan Indonesia yang berbudi luhur, taqwa kepada Allah SWT, berilmu dan cakap serta tanggung jawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.
Kedua, PMII selaku generasi muda indonesia sadar akan perannya untuk ikut serta bertanggungjawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secar merata oleh seluruh rakyat.
Ketiga, bahwa perjuangan PMII yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan idealisme sesuai deklarasi tawangmangu, menuntut berkembangnya sifat-sifat kreatif, keterbukaan dalam sikap, dan pembinaan rasa tanggungjawab.
berdasarkan pertimbanganitulah, PMII menyatakan diri sebagai organisasi Independent, tidak terikat baik sikap maupun tindakan kepada siapapun, dan hanya kommitmen terhadap perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskanPancasila.

B. Makna Filosofis PMII
PMII terdiri dari 4 penggala kata, yaitu :

1. Pergerakan
adalah dinamika dari hamba (mahluk) yang senantiasa maju bergerak menuju tujuan idealnya, memberikan rahmat bagi sekalian alam.
Perwujudannya :
• Membina dan Mengembangkan potensi Ilahiah
• Membina dan mengembangkan potensi kemanusiaan
• Tanggungjawab memberi rahmat pada lingkungannya
• gerak menuju tujuan sebagai Kahalifah Fil Ardl
2. Mahasiswa
Adalah generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri :
• sebagai insan religius
• sebagai insan akademik
• sebagai insan sosial
• dan sebagai insan yang mandiri
Perwujudannya :
- tanggungjwab keagamaan
- tanggungjawab intelektual
- tanggungjawab sosial kemasyarakatan
- tanggungjawab individual sebagai hamba tuhan maupun sebagai warga negara

3. Islam
- adalah agama uyang dianut, diyakini dan dipahami dengan haluan atau paradigma Ahlussunnah Wal Jama’ah.
- ASWAJA sebagai Manhaj Al Fikr(metode berfikir), yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran-ajaran islam secara proporsional antara iman, islam dan ihsan.

4. Indonesia
adalah masyrakat bangsa dan negara indonesia yang mempunyai falsafah dan idiologi bangsa(pancasila) dan UUD 1945 dengan landasan kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara yang terbentang dari sabng sampai merauke, serta diikat dengan kesadaran wawasan nusantara.
Secara totalitas, PMII bertujuan melahirkan kader bangsa yangmempunyai integritas diri sebagai hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya.
dan Atas Dasar Ketaqwaannya, berkiprah mewujudkan peran ketuhanan dalam rangka membangun masyrakat bangsa dan negara indonesia menuju suatu tatanan yang adil dan makmur dalam ampunan dan ridho Allah SWT.

C. Produk Hukum PMII

1. NDP(Nilai Dasar Pergerakan)
Secara esensial NDP adalah suatu sublimasi nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan pendorong, serta penggerak seluruh kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, islam mendasari dan menginspirasikan NDP ini, meliputi cakupan akidah, syari’ah dan ahlaq dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Dan sebagai upaya dalam memahami, menghayati dan mengamalkan islam tersebut, PMII menjadikan ASWAJA sebagai pemahaman keagamaan yang paling benar.
Fungsi NDP yaitu :
a. Landasan Berpijak, bahwa NDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijaksanaan yang harus dilakukan
b. Landasan Berfikir, Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi.
c. Sumber Motifasi, bahwa NDP menjadi pendorong kepada anggota untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai yang terkandung didalamnya.
Kedudukan NDP yaitu :
a. Rumusan nilai yang seharusnya dimuat dan menjadi aspek ideal dalam berbagai aturan dan kegiatan PMII
b. landasan dan dasar pembenar dalam berfikir, bersikap dan berperilaku.

2. AD/ART PMII
adalah suatu aturan-aturan teknis yang menjadi pedoman dalam menjalankan fungsi organisasi sehari-hari baik intern maupun ekstern. AD/ART ini dibuat, dirubah dan syahkan dalam forum tertinggi PMII yaitu Konggres PMII yang dilaksanakan dua tahun sekali.
Adapun isi dari AD/ART itu antara lain :
- aturan organisasi tingkat PB sampai Rayon
- sistem kaderisasi formal PMII
- PPTA(Pedoman penyelenggaraan tertib administrasi), dsb.



PPTA (Pedoman Penyelenggaraan Tertib Administrasi)
1. Surat
yang dimaksud dengan surat didalam pedoman adalah sarana komunikasi timbal balik yang mengandung pesan-pesan resmi organisasi yang trtuis diatas kertas yang khusus diperlukan untuk keperluan tersebut.
adapun ketentuan surat yang berlaku dan dapat dijadikan sarana komunikasi atu harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
a. Nomor surat atau disingkat No
b. lampiran surat atau disingkat Lamp
c. Perihal Surat atau disingkat Hal
d. Si alamat surat “ Kepada Yth “ dst
e. Kata Pembuka surat “Assalamu ‘Alaikum …… “
f. Kalimat Pengantar “ Salam Silaturrahmi kami sampaikan …………….. “
g. Maksud/isi surat ………….
h. Penutup “Wallaahul Muwaffiq Ilaa aqwaamith Thaariq & Wassalaamu ‘alaikum “
i. Tempat dan tanggal pembuatan surat
j. Nama penguruas organisasi + jabatannya








2. Pedoman Teknis
Dalam pembuatan surat resmi organisasi yang harus diperhatikan adalah kode yang terkandung dalam nomor surat. pembatasan pada setiap item kode ditandai dengan titik bukan garis miring.
setiap Penomoran surat mengandung 6 item kodeuntuk PB dan 7 item untuk PKC(Koordinator Cabang), PC(Cabang), PK(Komisariat) dan PR(Rayon).

Kode koorcab :
a. Jawa dan Madura ditandai Kode V
b. Bali dan Nusa Tenggara ditandai Kode W
c. kalimantan ditandai kode X
d. Sulawesi ditandai kode Y
e. Maluku dan Jayapura ditandai kode Z

Contoh surat Pengurus Rayon :
No : 008.PR-II.V-42.01-08.A-I.10.2001
Ket : 008 : Nomor Keluaran surat
PR-II : Periode kepengurusan yang ke 2
V-42 : Kode wilayah Cabang MALANG
01-08 : jenis surat Intern yang ke 8 atau 02-08 : jenis surat ekstern
A-I : Ditanda tangani oleh ketua dan sekretaris
10 : Bulan dikeluarkan surat
2001 : tahun dikeluarkannya surat

Ket. tambahan :
A-I : surat ditandatangani oleh Ketua dan sekretaris
A-II : surat ditandatangani oleh Ketua dan Wakil sekretaris
B-I : surat ditandatangani oleh Wakil Ketua dan sekretaris
B-II : surat ditandatangani oleh Wakil Ketua dan Wakil sekretaris
C-I : surat ditandatangani oleh Ketua, Sekretaris dan Bendahara
C-II : surat ditandatangani oleh Ketua, Wakil Sekretaris dan Bendahara


* Penulis adalah Sekretaris I PMII cabang Kota Malang
** Makalah ini disampaikan dalam MAPABA yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Ekonomi Komisariat Merdeka Malang.